Hiển thị các bài đăng có nhãn TNI-AL. Hiển thị tất cả bài đăng
Hiển thị các bài đăng có nhãn TNI-AL. Hiển thị tất cả bài đăng

Thứ Ba, 23 tháng 3, 2010

Tim Marinir ke Rusia Tinjau BMP-3F

24 Maret 2010

BMP-3F (image :Kurgan)

Jakarta (ANTARA) - Korps Marinir akan mengirimkan tim teknis ke Rusia untuk melihat langsung penyelesaian pengadaan tank amfibi BMP-3F yang kontrak pengadaannya disepakati pada Agustus 2008.

Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) M.Alfan Baharudin ketika di konfirmasi ANTARA di Jakarta, Selasa mengatakan, semula tim berangkat pada Maret 2010, namun karena masih ada kegiatan latihan rutin, maka tim berangkat akhir April 2010.

"Tim akan meninjau persiapan akhir penyelesaian pengadaan tank amfibi BMP-3F secara langsung, dan kemungkinan tiba di Indonesia sekitar Agustus tahun ini," ungkapnya.

Alfan menambahkan, ke-17 unit tank amfibi BMP-3F itu akan dioperasikan di Brigade Infanteri 1/Surabaya sebanyak 10 unit dan Brigade Infanteri 2/Jakarta sebanyak tujuh unit.

Sebelumnya, Korps Marinir TNI Angkatan Laut memperoleh hibah sepuluh tank amfibi dengan jenis landing vehicle track-7A1 dari Korea Selatan yang merupakan tank buatan Amerika Serikat tahun 1983.

Landing vehicle track (LVT)-7A1 ini sama kelasnya dengan tank amfibi PT 76 dan tank amfibi BTR 60 yang sudah dimiliki Indonesia. Kerja sama ini berawal dari pembicaraan tahun 2007. Saat itu Korea Selatan telah menawarkan LVT-7A1 kepada Indonesia. Namun, karena menunggu izin dari AS, kesepakatan ini baru bisa diwujudkan.

Tank amfibi LVT-7A1 merupakan hasil modifikasi dari jenis LVT yang dijuluki Alligator. Tank yang hingga kini masih digunakan Marinir Korea Selatan sama dengan yang digunakan dalam serangan Inggris ke Falkland, Perang Teluk, dan Perang Irak.

Korea Selatan juga memberikan satu paket suku cadang. LVT-7A1 mempunyai berat 22,8 ton, panjang 7,94 meter, lebar 3,27 meter, dan tinggi 3,26 meter.

Thứ Hai, 22 tháng 3, 2010

TNI Percayakan Kapal LST ke PT PAL

23 Maret 2010

KRI Teluk Tomini-508 (photo : TNI-AL)

Metrotvnews.com, Jakarta: Mabes TNI Angkatan Laut mempercayakan pembuatan kapal jenis Landing Ship Tank (LST) baru kepada PT PAL, untuk menggantikan tujuh kapal sejenis buatan Amerika Serikat (AS) yang akan "dipensiunkan". Juru bicara TNI Angkatan Laut Kolonel Laut (P) Heri Setianegara ketika dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Senin (22/3), mengatakan, "pemusnahan" tujuh kapal LST buatan AS tahun 1942-1945, itu sudah mulai dilakukan.

"Kita operasionalkan kapal-kapal itu sampai habis masa pakainya, lalu kita `pensiunkan` dan diganti dengan yang baru. Kita minta PT PAL untuk membuatkan tujuh kapal LST sebagai gantinya," kata Heri.

Ia mengemukakan, ketujuh kapal yang akan dimusnahkan itu kini masih beroperasi di Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil). Ketujuh kapal yang akan dipensiunkan adalah KRI Teluk Langsa 501, KRI Teluk Bayur 502, KRI Teluk Kau 504, KRI Teluk Tomini 508, KRI Teluk Ratai 509, KRI Teluk Saleh 510 dan KRI Teluk Bone 511 eks AL Amerika Serikat buatan tahun 1942-1945.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Utama PT PAL Harsusanto mengatakan, hingga 2014 PT PAL telah mendapat kontrak dari Kementerian Pertahanan dan TNI Angkatan Laut, yakni dua kapal selam, dua kapal perusak kawal rudal (PKR), 11 unit KCR-40, tujuh unit kapal angkut tank (AT/LST). PAL juga akan membuat 17 unit tank amfibi, dan 25 unit peningkatan kemampuan kapal-kapal perang TNI Angkatan Laut.(Ant/DSY)

(MetroTVNews)

Thứ Ba, 16 tháng 2, 2010

PT PAL Pasang Rudal Yakhunt Sendiri

17 Februari 2010



KRI Oswald Siahaan-354 (photo : TNI-AL)

SURABAYA,KOMPAS.com - Kemampuan industri galangan kapal Indonesia sebenarnya tak bisa diremehkan. Sebagai contoh, Divisi Kapal Perang PT PAL Indonesia (Persero) mampu memasang rudal Yakhunt buatan Rusia ke KRI Oswald Siahaan atau OWA yang merupakan kapal perang buatan anak negeri. Pemasangan misil di Indonesia akan menghemat biaya industri kapal.

Kepala Proyek Pemasangan Rudal Yakhunt Sutrisno mengatakan, saat ini pihaknya sedang membuat tempat pemasangan misil di lambung KRI OWA. " Bulan April mendatang empat misil dari Rusia akan datang dan siap dipasang di KRI OWA, ujarnya," Selasa (16/2) di PT PAL Indonesia (Persero), Surabaya.

Sebelumnya, PT PAL Indonesia (Persero) juga berhasil memperbaiki kapal perang jenis Corvet tipe Sigma buatan Belanda yang sebelumnya harus diperbaiki di Swiss selama berbulan-bulan dan berhasil diperbaiki sendiri hanya dalam waktu satu minggu. Industri kapal terbesar di Indonesia ini juga mampu melakukan overhaul Kapal Selam KRI Cakra dan KRI Nanggala tahun 1995 dan 1997 yang sebelumnya harus dilakukan di Korea Selatan.



"Kami sebenarnya mampu. Hanya, selama ini tak diberi kesempatan," kata Ketua Umum Serikat Pekerja PT PAL Indonesia (Persero) Yuniarto Leksana . Sebagai salah satu BUMN yang bergerak pada industri galangan kapal, PT PAL Indonesia (Persero) mengalami keterpurukan dalam tiga tahun terakhir. Bahkan, mulai Maret 2010, sebanyak 900 karyawan terpaksa harus di-PHK demi efisiensi perusahaan.




(Kompas)